Jumat, 20 April 2012

makalah ergonomi




TUGAS MAKALAH
 FOUR HENDED DENTISTRY

O

L

E

H

L. M Haerul Wardi




AKADEMI KESEHATAN GIGI
KARYA ADI HUSADA MATARAM
2012





I.     PENDAHULUAN
A.    Definisi (International Ergonomics Association).
1.    ERGON (Kerja) dan NOMOS (Ilmu Pengetahuan).
             Studi tentang aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain/perancangan untuk mendapatkan suasana kerja yang sesuai dengan manusianya.
2.    Penerapan Ergonomi dapat berupa:
a.    Rancang Bangun (design)
b.    Rancang Ulang (re-design)
3.    Dapat diterapkan untuk design pekerjaan pada suatu organisasi, misal: penentuan jam istirahat, pergantian shift, variasi pekerjaan, dll
B.     Sejarah
1.    Disosialisasikan sebagai bidang ilmu dari tahun 1949.
2.    Beberapa kejadian yang terkait dengan perkembangan ilmu ergonomi:
    1. CT. Thackrah, England, 1831.
1)      Postur tubuh manusia pada saat bekerja berhubungan dengan kesehatan kerja.
2)      Pencahayaan, ventilasi dan temperatur di lingkungan kerja,
3)      Pembebanan kerja, jam kerja, dan gerakan yang berulang-ulang.
    1. FW Taylor, USA, 1898.
1)      Metode ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan pekerjaan.
2)      Konsep ergonomi dan manajemen modern.
    1. FB. Gilbreth, USA, 1911.
1)      Optimasi metode kerja, dalam Analisa Gerakan.
2)      Motion Study, posisi membungkuk dapat diatasi dengan meja yang bisa naik-turun (adjustable).
    1. E. Mayo, USA, 1933.
1)      Kuantifikasi pengaruh dari variabel fisik seperti misal pencahayaan dan lamanya waktu istirahat terhadap efisiensi dari para operator kerja pada unit perakitan.

    1. Pembentukan Kelompok/Asosiasi Ergonomi.
1)      The Ergonomics Research Society, England, 1949.
2)      The International Ergonomics Assosiation, 1957.
3)      The Human Factor Society, USA, 1957.
4)      The Ergonomics Society of Australia and New Zealand, 1954.


C.     Dasar Keilmuan dari Ergonomi
1.    Ergonomi terkait dengan karakteristik fungsional dari manusia, seperti kemampuan penginderaan, respon, daya ingat, posisi optimum tangan dan kaki, dll.
2.    Ergonomi membutuhkan pemahaman ilmu-ilmu terapan yang banyak berhubungan dengan  fungsi tubuh manusia seperti anatomi dan fisiologi.
3.    Sistem kerangka otot manusia, yang meliputi:
a.    Kinesiologi,
Mekanika pergerakan manusia (mechanics of human movement).
b.    Biomekanika,
Aplikasi ilmu mekanika teknik untuk analisis sistem kerangka-otot manusia.
4.    Anthropometri,
Pengukuran dan diskribsi dimensi tubuh manusia.
5.    Industrial Hygiene,
Penfendalian resiko kesehatan dalam kerja.
6.    Industrial Phsychology,
Sikap dan Prilaku manusia dalam bekerja.




















II.  PEMBAHASAN
Ergonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu ergo artinya kerja dan nomos artinya hukum alam. Jadi, ergonomi adalah manusia yang bekerja berdasarkan hukum alam.
Ergonomi adalah suatu cabang keilmuan yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja dengan baik yaitu mencapai tujuan yang diinginkan dalam pekerjaan dengan efektif, efisien, aman dan nyaman.
Salah satu penerapan ergonomi adalah aktivitas rancang bangun ataupun rancang ulang dan proses mendesain atau evaluasi produk. Adapun tujuan dari perancangan-perancangan tersebut adalah untuk memberikan kenyamanan kerja, meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja bagi karyawannya dengan tetap semanagat.
            Ergonomi adalah suatu cabang kelimuan yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja dengan baik yaitu mencapai tujuan yang diinginkan dalam pekerjaan dengan efektif, efisien, aman dan nyaman.
Banyak definisi tentang ergonomi yang dikeluarkan oleh para pakar dibidangnya antara lain:
a.    Ergonomi adalah ”Ilmu” atau pendekatan multidisipliner yang bertujuan mengoptimalkan sistem manusia-pekerjaannya, sehingga tercapai alat, cara dan lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman, dan efisien (Manuaba, A., 1981).
b.    Ergonomi adalah ilmu, seni, dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktifitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik (Tarwaka. dkk, 2004).
c.    Ergonomi adalah ilmu tentang manusia dalam usaha untuk meningkatkan kenyamanan di lingkungan kerja (Nurmianto, 1996).
d.   Ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha untuk menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktifitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal-optimalnya (Suma’mur, 1987).
e.    Ergonomi adalah praktek dalam mendesain peralatan dan rincian pekerjaan sesuai dengan kapabilitas pekerja dengan tujuan untuk mencegah cidera pada pekerja. (OSHA, 2000).

A.      Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, dengan meniadakan beban kerja tambahan    (fisik dan mental), mencegah penyakit akibat kerja, dan meningkatkan kepuasan kerja.
2. Meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas kontak sesama pekerja, pengorganisasian yang lebih baik dan menghidupkan sistem kebersamaan dalam tempat kerja.
3. Berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek-aspek teknik, ekonomi, antropologi dan budaya dari sistem manusia-mesin untuk tujuan meningkatkan efisiensi sistem manusia-mesin.
B.       Manfaat pelaksanaan ergonomi adalah sebagai berikut:
1. Menurunnya angka kesakitan akibat kerja.
2. Menurunnya kecelakaan kerja.
3. Biaya pengobatan dan kompensasi berkurang.
4. Stress akibat kerja berkurang.
5. Produktivitas membaik.
6. Alur kerja bertambah baik.
7. Rasa aman karena bebas dari gangguan cedera.
8. Kepuasan kerja meningkat.
C.       Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi :
1. Tehnik
2. Fisik
3. Pengalaman psikis
4. Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan persendian
5. Anthropometri
6. Sosiologi
7. Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen up take, pols
dan aktivitas otot.
8. Desain, dll.
D.      Metode-metode Ergonomi
1. Diagnosis
    Dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomik checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks.
2. Treatment
    Pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat diagnosis. Kadang sangat        sederhana seperti merubah posisi meubel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja.
3. Follow-up
    Dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan, sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain.
E.       Aplikasi/penerapan Ergonomik:
1. Posisi Kerja
    Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
2. Proses Kerja
    Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur.
3. Tata Letak Tempat Kerja
    Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.

4. Mengangkat beban
    Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan, punggung, dll. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.
Setelah pekerja melakukan pekerjaannya maka umumnya terjadi kelelahan, dalam hal ini kita harus waspada dan harus kita bedakan jenis kelelahannya, beberapa ahli membedakan / membaginya sebagai berikut :
a. Kelelahan fisik
    Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat dikompensasi dan diperbaiki      performansnya seperti semula. Kalau tidak terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat dan tidur yang cukup.
b. Kelelahan yang patologis
    Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya muncul tiba-tiba dan berat    gejalanya.
c. Psikologis dan emotional fatique
    Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan merupakan sejenis “mekanisme melarikan diri dari kenyataan” pada penderita psikosomatik. Semangat yang baik dan motivasi kerja akan mengurangi angka kejadiannya di tempat kerja.
    Aplikasi Ergonomi untuk Perancangan Tempat Kerja
Pelatihan bidang ergonomi sangat penting, sebab ahli ergonomi umumnya berlatar belakang pendidikan tehnik, psikologi, fisiologi atau dokter, meskipun ada juga yang dasar keilmuannya tentang desain, manajer dan lain-lain. Akan tetapi semuanya ditujukan pada aspek proses kerja dan lingkungan kerja.

Penanggulangan Permasalahan Ergonomi
      Aplikasi ergonomi dapat dilaksanakan dengan prinsip pemecahan masalah; tahap awal adalah identifikasi masalah yang sedang dihadapi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi.
 Langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas masalah, masalah yang paling mencolok harus ditangani lebih dahulu. Setelah analisis dikerjakan, maka satu atau dua alternatif intervensi harus diusulkan.
Pada pengenalan/rekognisi ada 3 hal yang harus diperhatikan, ketiganya berinteraksi dalam penerapan ergonomi dengan fokus utama pada sumber daya manusia.
1.    Kesehatan mental dan fisik harus diperhatikan untuk diperbaiki sehinggga didapatkan tenaga kerja     yang sehat fisik, rohani dan sosial yang memungkinkan mereka hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomi.
2.    Kemampuan jasmani dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan antropometri, lingkup gerak sendi dan kekuatan otot.
3.    Lingkungan tempat kerja
a. Harus memberikan ruang gerak secukupnya bagi tubuh dan anggota badan sehingga dapat       bergerak secara leluasa dan efisien.
b. Dapat menimbulkan rasa aman dan tidak menimbulkan stres lingkungan.
c. Pembebanan kerja fisik
    Selama bekerja, kebutuhan peredaran darah dapat meningkat sepuluh sampai dua puluh kali. Meningkatnya peredaran darah pada otot-otot yang bekerja, memaksa jantung untuk memompa darah lebih banyak.
Kerja otot dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu:
d. Kerja otot dinamik, ditandai dengan kontraksi bergantian yang berirama dan ekstensi, ketegangan dan istirahat.
e. Kerja otot statik, ditandai oleh kontraksi otot yang lama yang biasanya sesuai dengan sikap tubuh. Tidak dianjurkan untuk meneruskan kerja otot statik dalam jangka lama karena akan timbul rasa nyeri dan memaksa tenaga kerja untuk berhenti.
f. Sikap tubuh dalam bekerja
Sikap tubuh dalam bekerja berhubungan dengan tempat duduk, meja kerja dan luas pandangan. Untuk merencanakan tempat kerja dan perlengkapannya diperlukan ukuran-ukuran tubuh yang menjamin sikap tubuh paling alamiah dan me-mungkinkan dilakukannya gerakan-gerakan yang dibutuhkan


III.   Kesimpulan
     Penerapan Ergonomi di tempat kerja bertujuan agar pekerja saat bekerja selalu dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera.
     Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat, membuat berbagai peraturan, petunjuk teknis di Tempat Kerja serta menjalin kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaannya


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar